ELEVATE YOUR BUSINESS WITH

Informasi kontak

Jl. Lamongrejo No. 7, Ds. Jetis, Kec. Lamongan, Kab. Lamongan, 62214. 085730666023 admin@maarifnulamongan.com Jam Kantor : 08.00 - 15.00 Sabtu - Kamis
19 Sep 2026 Kholilul Wahib 8 views

Ali Nurdin Paparkan Agenda Besar LP Ma’arif NU Lamongan, dari Penguatan Guru hingga Batik Ma’arif

LAMONGAN – Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif NU Lamongan terus mendorong transformasi lembaga pendidikan agar tidak hanya mampu bertahan menghadapi perubahan zaman, tetapi juga menjadi rujukan bagi masyarakat. Sejumlah agenda penguatan sumber daya manusia, pembelajaran Aswaja, inovasi kelembagaan, hingga penguatan identitas Ma’arif mulai dipersiapkan.

Hal tersebut disampaikan Ketua LP Ma’arif NU Lamongan, Drs. H. Ali Nurdin, M.Pd., dalam pelantikan 60 kepala madrasah dan sekolah di lingkungan LP Ma’arif NU Lamongan, Sabtu (19/9/2026), di Aula Kantor PCNU Lamongan.

Pelantikan tersebut diikuti 60 kepala madrasah/sekolah dari berbagai jenjang serta para Ketua BP3MNU lembaga. Kegiatan menjadi bagian dari rangkaian Harlah LP Ma’arif NU ke-97 sekaligus rangkaian peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 PCNU Lamongan.

Di hadapan para kepala lembaga yang baru dilantik, Ali Nurdin menyampaikan ucapan selamat sekaligus harapan agar amanah baru tersebut mampu membawa lembaga masing-masing semakin maju.

“Selamat atas amanah yang diberikan kepada Bapak/Ibu yang hari ini dilantik. Semoga bisa membawa lembaganya maju,” pesannya.

Namun, bagi Ali Nurdin, kemajuan lembaga pendidikan Ma’arif tidak cukup hanya mengandalkan pergantian atau penguatan struktur kepemimpinan. Diperlukan agenda bersama yang menyentuh kualitas guru, pembelajaran, budaya lembaga, hingga kemampuan kepala madrasah melakukan inovasi.

Salah satu agenda yang dipaparkan Ali Nurdin adalah penguatan kerja sama antara LP Ma’arif NU Lamongan dan LPTNU Lamongan.

Kerja sama tersebut diarahkan dalam pola yang ia sebut sebagai simbiosis mutualisme, khususnya untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas guru di lingkungan LP Ma’arif NU Lamongan.

Menurutnya, peningkatan mutu pendidikan tidak dapat dilepaskan dari kualitas sumber daya manusia yang berada di dalam lembaga. Karena itu, pengembangan kompetensi guru menjadi salah satu bagian penting dari orientasi kepengurusan LP Ma’arif NU Lamongan.

Selain penguatan guru, LP Ma’arif NU Lamongan juga telah menyiapkan buku paket Pendidikan Aswaja NU. Untuk jenjang MI/SD, buku tersebut disebut telah tersedia dan diharapkan dapat menjadi salah satu instrumen penguatan pembelajaran Aswaja di lembaga pendidikan Ma’arif.

Ali Nurdin juga menekankan pentingnya peran kepala madrasah atau sekolah sebagai motor penggerak perubahan.

Menurutnya, suasana dan perkembangan sebuah lembaga sangat dipengaruhi oleh semangat kepala lembaga dalam menggerakkan seluruh sumber daya yang dimiliki.

“Lembaga pendidikan itu bisa semangat kalau kepalanya semangat,” ujarnya.

Karena itu, kepala lembaga didorong tidak berhenti pada rutinitas administratif. Mereka perlu menghadirkan terobosan dan mengajak guru-guru belajar dari lembaga lain yang telah berkembang.

Salah satu langkah yang didorong adalah melakukan studi tiru ke lembaga-lembaga pendidikan yang dinilai maju.

“Panjenengan bisa mengajak guru-guru untuk studi tiru di lembaga yang maju-maju,” pesannya.

Gagasan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun budaya belajar antarlembaga, sehingga sekolah dan madrasah Ma’arif tidak berjalan sendiri-sendiri dalam menghadapi tantangan pendidikan.

Ali Nurdin berharap, ke depan lembaga pendidikan di bawah LP Ma’arif NU Lamongan tidak hanya berkembang untuk kepentingan internal organisasi, tetapi mampu menjadi rujukan masyarakat dan lembaga pendidikan lain di luar Ma’arif.

Dalam paparannya, Ali Nurdin juga menyampaikan sejumlah agenda yang akan menjadi bagian dari penguatan ekosistem pendidikan Ma’arif NU Lamongan.

Salah satunya adalah Jelajah Santri ke-3 yang akan dilaksanakan melalui Satuan Komunitas (Sako) Ma’arif NU Lamongan. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan pengalaman pendidikan yang lebih luas bagi peserta didik.

Selain program pendidikan dan kaderisasi, LP Ma’arif NU Lamongan juga mencanangkan penggunaan Batik Ma’arif Lamongan sebagai bagian dari identitas bersama.

Untuk guru dan tenaga pendidikan, Batik Ma’arif Lamongan akan dikenakan setiap Kamis tanggal 19 setiap bulan. Sementara untuk peserta didik jenjang MI/SD, MTs/SMP, hingga SMA/MA/SMK, Batik Ma’arif direncanakan dikenakan setiap hari Kamis.

Pencanangan tersebut tidak sekadar diarahkan sebagai penggunaan seragam, tetapi menjadi bagian dari upaya membangun identitas dan rasa memiliki terhadap lembaga pendidikan Ma’arif NU Lamongan.

Sementara itu, Ketua PCNU Lamongan, KH Sahrul Munir, dalam sambutannya mengingatkan bahwa kepala madrasah dan sekolah memiliki posisi strategis dalam pengembangan lembaga sekaligus kaderisasi NU.

Ia meminta para kepala lembaga yang baru dilantik menjalankan amanah dengan penuh khidmah serta membangun kekompakan di lingkungan pendidikan Ma’arif.

KH Sahrul menegaskan bahwa pembelajaran di lembaga Ma’arif harus memiliki manhaj yang jelas, yakni berlandaskan Ahlussunnah wal Jamaah.

“Anak-anak Ma’arif ini adalah kader NU masa depan. Untuk itu harus dibekali karakter dan agama yang jelas,” tegasnya.

Ia juga mendorong lembaga pendidikan Ma’arif ke depan semakin serius mengembangkan pembelajaran berbasis STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts and Mathematics) agar peserta didik memiliki kompetensi yang relevan dengan perkembangan zaman.

Selain itu, ia berharap kepala lembaga Ma’arif telah mengikuti PD-PKPNU. Ke depan, setiap lembaga diharapkan memiliki setidaknya lima guru yang mengikuti PD-PKPNU sehingga proses kaderisasi dapat berjalan lebih serentak dan kompak.

Pelantikan 60 kepala madrasah dan sekolah tersebut dengan demikian tidak hanya menjadi momentum pergantian atau pengukuhan kepemimpinan. Bagi LP Ma’arif NU Lamongan, momentum tersebut menjadi titik penguatan agenda pendidikan: memperkuat guru, memperjelas identitas Aswaja, mendorong inovasi kepala lembaga, membangun budaya belajar, dan menghadirkan lembaga Ma’arif sebagai rujukan masyarakat.